Showing posts with label Helin Supentoel. Show all posts
Showing posts with label Helin Supentoel. Show all posts

Saturday, May 19, 2012

Duhai Penimbun Surga



kutuliskan segala rasa dalam syairku pagi ini
bersama mentari menyibak dedaunan bersimbah embun suci
dan sejuk udara meretas ruang-ruang beku di dada
dengarlah,
duhai pemilik bibir ranum merekah dalam kerudung putih santun
yang tiada satu cerah dan wangi bunga menandingimu dalam mekar
apalagi bidadari-bidadari, kan meraung pada ibunya dirumah
karna cemburu melihatmu meronce kecantikan alam raya
menawarkan cahaya surga kelangkaan
dan pelabuhan akhir bagi perompak lautan
kau telah merenggutku dari pertapaan
pesona kesetiaanku pudar sederas mata air gunung turun keparit
menyuburkan tetanaman semasa kemarau melanda

duhai penimbun surga
kali ini kumaafkan kau dalam dosaku
dalam harummu
namun, bila esok hari kau memainkan canda indahmu padaku lagi,
menjadikan darahku kembali mendidih,
membakar kebekuan luh rasaku,
menumbuhkan kedua tanduk dikepalaku,
sayap di dadaku, lantas mengajakku terbang ke awan putih,
jangan salahkan aku
bila aku terlampau tega menculikmu dari kekasih yang kau cinta


Ngawi, 19 Mey 2012

Friday, May 4, 2012

Bepulang


oleh Helin Supentoel pada 3 Mei 2012 pukul 1:40 ·

kamboja kembali bercerita
tarian si gagak pun lekas mengerlingkan mata
berkoreografi pada langit
akan jejak sesosok inspirasi di sebuah negri


bagaimana lagi kan kukatakan
mulut sekejap pucat, membisu
mataku nanar, sembari meluncurkan hujan air mata
akan pengkabaran menusuk kalbu tiba-tiba
tiada terkira


benar engkau telah memberi warna selama ini
bagaikan pelangi di atas dedanau
untukku simpan di sudut telaga
semenawan intan permata langka
dan sapamu selembut salju
selebat bulu-bulu sutra
menjadi seorang ibu memberi susu


biarlah lapak bait-bait emasmu kan mengisi keabadian
bersama harum namamu di seka persajakan
sebagai pereda kala meresahkan haus rindu
meski engkau tiada lagi bisa mengadu


sederas apapun gemuruh banjir sungai
pastilah kan tenang sesampai samudra lautan


duhai pemilik senyum terindah sepanjang masa
selamat jalan
kuiring engkau berpulang dengan sadjakku



Ngawi, 02 mei 2012

(puisi Untuk Alm. Heru Emka)

Wednesday, May 2, 2012

Dua Mei ke-Dua Puluh Tujuh


oleh Helin Supentoel pada 2 Mei 2012 pukul 4:57 ·

Ting lalu membuat dua muara langit menghadirkan benih hujan runtuh tiba-tiba di mei syahdu

bersama legam bibirnya pucat pasi meretaskan bunyi-bunyi kebesaran

tiada awan dan badai menerpa kesenyapan sebuah negri

tujuh aura pun masih kunjung semayam memberi warna bagaikan bunga tujuh rupa bersemi di beranda tiada masa

ataupun keengganan sejuk pagi hadirkan bening embun

hanya bidak pengkabaranlah menjadikan tarian lipat dada tumbuh mengembang

dalam sujud,

syukur.



lama sudah bara mentari membakar sebagai jejak-jejak perjalanan

dalam kasih, rindu, sepi, dan segala danau kegalauan

dingin malam pun mendekap sebuah makna yang di sebut renta kunjung di raga

kemana arah angin kan lagi membawa terbang mengepakkan sayap panjangya

sembari menitipkan pesan bisu tiada alamat berpulang semula

hitamnya arang pernah tersuguh menjadi lauk hidangan, begitu pula manis madu

namun tiada semanis ibu memeluk erat segala kepahitan kata

sesakit ibu menahan kecemasan saat terjatuh dari pangkuan

memberi lautan harapan, melipat langit dan menjadikan bumi bola mainan

pula kesabaran mengajak berjalan, bermain, lantas berlarian pada epitaf kehidupan

ya, bagaimana lagi danau kasih kan mampu terbalaskan untuknya

tuk keharuman segala wewangian

hingga mentari lelah menjamah cerita

tiada mungkin

hanya terima kasih tumbuh di ladang sadjakku

ke dua puluh tujuh waktu

yang tiada malu



Ngawi, 02 mei 2012